Salah satu isu yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah isu mengenai ketenagalistrikan di Indonesia. Hal ini berawal dari pemadaman yang sering dilakukan akhir-akhir ini oleh PLN, bahkan di wilayah-wilayah strategis seperti ibu kota dan pusat-pusat industri sebagai kompensasi dari kenaikan harga minyakdunia yang notabene merupakan penyuplai bahan bakar bagi sebagian besar pembangkitdi Indonesia. Sebagai seorang akademisi bidang kelistrikan saya merasa terarik untuk mencoba memberikan sedikit pandangan tentang masalah ini,tentunya dengan berbekal segala keterbatasan dalam ilmu dan wawasan.
Inti dari permasalahan ketenagalistrikan kita adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan beban dengan pasokan daya yang mampu diberikan. Jadi di sini ada dua sisi permasalahan, yaitu permasalahan pertumbuhan beban dan permasalahan dalam hal penyediaan pasokan.
Pertumbuhan beban di Indonesia
Pertumbuhan beban yang tinggi merupakan permasalahan utama dari sisi ini.Memang sebagai sebuah negara berkembang pertumbuahan beban yang tinggi di satu sisi memberikan sinyal positif jika dilihat dari perspektif keberlangsungan pembangunan. Namun ini menjadi sesuatu yang negatif jika tidak diikuti oleh kemampuan yang cukup untuk menyuplai beban tersebut. PLN sendiri menargetkan akan memenuhi pertumbuhan beban hingga 9-10% untuk mencapai target Indonesia 100% terlistriki di 2020, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 75. Realistiskah? Jawabannya kembali pada seberapakah kemampuan PLN untuk menyelesaikan permasalahan di sisi berikutnya yaitu sisi penyediaan pasokan.
Penyediaan Pasokan Daya
Permasalahan dalam penyediaan pasokan daya ini terkait dengan sistem ketenagalistrikan yang menyuplai pertumbuhan beban di atas. Berbicara mengenai sistem tenaga listrik tentunya tidak lepas dari pembangkitan (power generation) dan penyaluran (power distribution). Jika kita mencoba menilik kembali permasalahan utamanya, yakni kenaikan harga minyak dunia, dapat kita simpulkan bahwa permasalahan lebih kepada sistem pembangkitan yang masih sangat tergantung kepada bahan bakar minyak.
Terkait dengan masalah ini banyak kita dengar usulan-usulan tentang penggunaan energi terbarukan. Menanggapi hal ini perlu dipahami bahwa terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara bahan bakar dengan investasi pembangkitan. Penggunaan bahan bakar yang murah dan mudah akan membutuhkan cost yang tinggi dalam pembangunan pembangkit, sebaliknya pembangunan pembangkit dengan cost yang rendah baisanya butuh bahan bakar dengan harga tinggi dan sulit didapatkan. Ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa diharapkan mengkompensasi fenomena ini dengan memunculkan teknologi-teknologi yang mampu mengkonversi energi murah dan mudah menjadi listrik dengan cost yang rendah. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa ilmu pengetahuanpun tidak gratis,dan ini menjadi seperti hal yang naif menimbang masih rendahnya kesadaran bangsa ini terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Solusi
Bagaimanapun setiap permasalahan tentu ada solusinya. Kembali kepada kita apakah mau atau tidak untuk melakukannya. Terkait dengan pemaparan di atas beberapa solusi mungkin bisa kita upayakan dalam usaha menghadapi permasalahan ketenagalistrikan ini. Secara garis besar saya membaginya menjadi solusi jangka pendek ,jangka menengah, dan jangka panjang.
Solusi Jangka Pendek
HEMAT LISTRIK, HEMAT LISTRIK, HEMAT LISTRIK. Inilah yang selalu digembargemborkan oleh PLN akhir-akhir ini. Tidak kita pungkiri bahwa memang inilah solusi jangka pendek yang paling tepat untuk kita ambil. Karena membangun pembangkit bukanlah pekerjaan sederhana,perlusan jaringan bukanlah membalik telapak tangan, tetapi kesadaran masing-masing pribadi untuk mengefisienkan pemakaian listrik dimulai dari rumah masing-masing bukankah itu suatu hal yang mudah dilaksanakan namun besar pengaruhnya?
Solusi Jangka Menengah
Ini lebih terkait pada pembangunan sistem ketenagalistrikan itu sendiri. Ini memang pekerjaan PLN, tapi kita semua harus membantu mereka. Pemerintah hendaknya memberikan kebijakan-kebijakan yang lebih meringankan PLN, seperti :pengaturan harga TDL yang lebih adil dan realistis serta subsidi yang mencukupi bagi PLN. Kitapun dari rakyat seyogyanya menerima dengan lapang dada apabila pemerintah memang harus menaikkan harga listrik. Coba kita bayangkan betapa murahnya harga listrik sementara kita bisa melakukan berbagai hal dengannya. Mengapa untuk membeli pulsa hp yang harganya jauh lebih mahal kita mampu?
Solusi jangka panjang
Ke depannya kita perlu mengembangkan sistem ketenagalistrikan kita agar tidak melulu terbentur pada permasalahan yang sama. Maka ilmu pengetahuan adalah solusi jangka panjangnya. Sudah saatnya kita mengubah paradigma berpikir jangka pendek yang tidak mau sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Inipun sekali lagi merupakan tanggung jawab kita bersama. Para akademisi harus lebih bersemangat dalam berkarya dan pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya hendaknya memberikan iklim yang positif bagi mereka sehingga bisa berkarya untuk kemajuan bangsa.